Palembang tidak hanya dikenal dengan Jembatan Ampera yang megah, tetapi juga sebagai rumah dari salah satu warisan kuliner paling ikonik di Nusantara. Namun, jika kita menggali lebih dalam, sejarah di balik piring berisi adonan kenyal ini jauh lebih kompleks daripada sekadar olahan daging laut. Memahami asal-usul kuliner Pempek membawa kita kembali ke masa di mana akulturasi budaya antara masyarakat lokal dan pendatang dari Tiongkok mulai membentuk identitas rasa yang unik. Banyak orang yang mengonsumsinya setiap hari, namun sangat sedikit yang benar-benar memahami filosofi dan perjalanan sejarah di balik setiap gigitannya.
Nama makanan ini sendiri memiliki cerita yang unik dan sangat personal. Dahulu, kuliner ini lebih dikenal dengan sebutan kelesan, sebuah istilah untuk makanan yang diproduksi dengan cara ditekan-tekan menggunakan alat kayu tradisional. Namun, seiring dengan dominasi pedagang keturunan Tionghoa yang menjajakannya dengan berkeliling, sebutan akrab bagi mereka, yaitu “Apek”, mulai melekat pada makanan tersebut. Masyarakat sering memanggil para penjual ini dengan seruan “Pek, empek!”, yang lama-kelamaan bertransformasi menjadi istilah pempek yang kita kenal secara luas hingga saat ini. Pergeseran nama ini membuktikan betapa kuatnya pengaruh interaksi sosial dalam membentuk identitas sebuah produk budaya.
Bahan dasar yang digunakan pun memiliki evolusi tersendiri. Pada awalnya, jenis ikan yang digunakan adalah ikan belida yang banyak ditemukan di Sungai Musi. Namun, karena ketersediaan ikan belida yang semakin langka dan harganya yang melambung tinggi, para pengrajin kuliner mulai beralih menggunakan ikan gabus atau ikan tenggiri tanpa mengurangi kualitas rasa. Penggunaan ikan sebagai sumber protein utama mencerminkan kekayaan hayati perairan Sumatera Selatan yang melimpah. Rahasia kelezatannya terletak pada keseimbangan antara kesegaran bahan baku dan takaran tepung tapioka yang tepat, sebuah teknik yang diwariskan secara turun-temurun melalui lisan dan praktik langsung di dapur-dapur keluarga.
Tidak lengkap membicarakan makanan ini tanpa membahas pasangan sejatinya, yaitu cuko. Cuko bukan hanya sekadar saus pelengkap, melainkan nyawa dari hidangan tersebut. Cuko yang otentik haruslah menggunakan gula merah batok yang berasal dari daerah tertentu untuk menghasilkan warna hitam pekat dan aroma yang kuat namun tidak getir. Perpaduan antara rasa pedas dari cabai rawit, asam dari asam jawa, dan gurih dari bawang putih menciptakan sensasi ledakan rasa yang sangat kontras namun harmonis. Di Palembang, meminum cuko setelah menghabiskan sepiring hidangan adalah sebuah tradisi yang menunjukkan kedekatan emosional masyarakat dengan kuliner kebanggaan mereka.